Tuesday, 24 May 2011

Bohong


“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang
banyak berdusta lagi banyak berdosa”
(Al Quran, Al Jatsiayah 45; 7)

Adalah sebuah cerita klasik yang mengingatkan kita akan bahayanya berbohong. Konon dahulu kala ada sebuah kampung yang kehidupan kesehariannya bergantung pada peternakan. Ternak kambing mereka sangatlah produktif dan menjadi sandaran hidup masyarakat kampung itu. Tetapi ternak-ternak itu mesti dijaga oleh penduduk kampung tersebut secara bergilir. Di sekitar kampung tersebut banyak serigala yang siap memangsa ternak-ternak penduduk kampung.

Pada satu hari, musibah besar melanda kampung tersebut. Musibah datang disebabkan kebohongan salah seorang penduduk kampung tersebut. Kejadiannya adalah pada siang hari bolong. Salah seorang penduduk kampung berteriak mengingatkan penduduk kampung akan datangnya serigala. “Addikba, addikba” (serigala-serigala) teriak orang tersebut mengingatkan. Penduduk kampung yang sedang beristirahat siang dan bekerja pun terkejut. Semuanya cepat-cepat bergegas mengamankan ternak-ternak mereka.

Tetapi ternyata serigala yang diteriakan salah seorang penduduk kampung tersebut tidak ada. Ketika ditanyakan kepada penduduk yang berteriak, dengan sangat tenang tanpa merasa berdoa orang tadi mengatakan kalau serigala yang dia maksud sudah kembali lagi ke sarangnya. Sadarlah penduduk kampung tersebut kalau mereka sudah dibohongi oleh teriakan orang tadi.

Sambil berjalan dengan muka kesal, penduduk kampung kembali ke rumah masing-masing melanjutkan aktivitasnya. Tidak lama berselang, orang tadi kemudian berteriak keras “addikba, addikba” serigala-serigala. Masyarakat pun kembali bergegas keluar rumah menyelematkan ternaknya masing-masing. Tetapi tidak berbeda dengan kejadian pertama, serigala yang diteriakan pemuda tadi tidak muncul juga. Sadarlah masyarakat bahwasannya mereka sudah dibohongi teman mereka untuk yang kedua kalinya.

Lama berselang kembali pemudu tadi berteriak mengingatkan penduduk datangnya serigala yang akan mengancam ternak mereka. Berbeda dengan teriakan sebelumnya, teriakan pemuda tersebut kali ini betul-betul teriakan yang mengingatkan penduduk karena serigala-serigala itu memang datang akan memangsa ternak milik penduduk. Tetapi karena penduduk desa menganggap teriakan pemuda tadi tidak jauh berbeda dengan teriakan sebelumnya; teriakan bohong.

Alhasil ternak penduduk kampung pun habis dimangsa serigala. Tidak ada ternak yang tersisa termasuk ternak milik keluarga si pemuda yang berteriak tadi. Malah ternyata ternak milik pemuda tadi merupakan ternak yang paling banyak dimangsa serigala tadi.

Penduduk desa sepertinya memang sudah berjalan dengan nalurinya untuk menilai sebuah informasi. Mereka memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mengungkapkan sebuah pendapat. Kali pertama dan kali kedua penduduk desa mungkin bisa dibohongi, tetapi pada kali kedua penduduk desa tidak ingin dibohongi dan memberikan cap bohong kepada orang tersebut. Walaupun pada akhirnya teriakan pada kali yang ketiga adalah teriakan kebenaran bukan teriakan kebohongan.

Sebaliknya pemuda tadi sepertinya sudah melewatkan kesempatan untuk dipercayai dan melupakan hukum berbohong. Dimana-mana tidak ada orang yang bisa membohongi seluruh orang di setiap waktu, yang bisa dibohongi hanyalah sebagian orang di sebagian waktu saja. Selain itu sebuah kebohongan pasti selalu membutuhkan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Bila tidak ada keberanian dan kesungguhan untuk memutuskan siklus kebohongan, maka kebohongan akan menjadi keseharian.

Hukum bohong lain yang dilupakan pemuda tersebut adalah; kehancuran bagi semua orang, termasuk bagi pelaku bohong tersebut, bila kebohongan terus menerus dilakukan.

Tidak salah kalau nabi Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan sahabat-sahabatnya akan pembicaraan nabi tentang kebenaran dan ketenangan. Kata Ali, mengutip kembali ucapan nabi “Tinggalkan apa yang kau ragu-ragukan kepada apa yang tidak kau ragu-ragukan. Sesungguhnya kejujuran membawa ketenangan dan dusta itu menimbulkan keraguan.



READ MORE - Bohong

Blackberry Diancam, Blackberry Dibela


Ada fenomena menarik ketika Menkominfo mengancam Blackberry. Sedikit sekali kita mendengar reaksi RIM. Justru yang ramai adalah debat pemerintah dengan publik. Pengguna Blackberry merasa ancaman Menkominfo merugikan mereka. Sementara pemerintah menjelaskan kalau itu adalah titah UU. Ditengah pro kontra itulah kita lihat sinisme publik terhadap pemerintah dan pemerintah yang gigah menjelaskan bahwa mereka sedang membela kepentingan publik. Adapun RIM sebagai pihak yang sedang disengketakan, seakan berada diluar perdebatan keduanya.

Bila ditelaah lebih lanjut, pada dasarnya tidak ada yang menyimpang dari tuntutan pemerintah. Dari tujuh tuntutan Depkominfo semuanya adalah tentang regulasi yang berlaku di Indonesia Tuntutan pemerintah itu adalah; Pertama, RIM mesti mematuhi UU No 36/1999 telekomunikasi, UU No 11/2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan UU No 44/2008 tentang pornografi. Ini adalah sebuah kewajaran karena setiap pelaku ekonomi di Indonesia mesti mengikuti aturan main yang berlaku disini.

Kedua RIM mesti membuka kantor perwakilan di Indonesia. Ketiga RIM mesti buka layanan pelanggan di Indonesia. Saat ini menurut Menkominfo setidaknya ada dua juta pelanggan resmi Blackberry di Indonesia,terbesar kedua setelah Amerika,  dan satu juta pelanggan black market. Keempat RIM mesti merekrut tenaga kerja Indonesia. Kelima RIM mesti menggunakan conten lokal. RIM tentunya mesti memberikan konstribusi peningkatan ekonomi dan pengembangan dunia telekomunikasi. Peningkatan ekonomi bisa dilakukan dengan penyerapan tenaga kerja. Adapun pengembangan telekomunikasi dan informatika lokal dengan memfasilitasi pengembangan conten-conten lokal. Tidak jauh berbeda dengan tuntutan pemerintah terhadap industri lainnya.

Keenam RIM mesti memblokir situs porno sebagaimana diamanatkan UU anti pornografi. Ketujuh RIM mesti membangun server. Tuntutan ini muncul karena sifat enkripsi data yang diterapkan RIM membuat semua data menjadi sangat rahasia dan private. Mungkin membangun server bisa dianggap berlebihan karena dalam dunia maya server bisa berada dimana saja dan diakses dari mana-mana. Persoalan penting yang perlu diperhatikan adalah perlunya akses penegak hukum untuk mendapatkan data-data para pengguna BBM yang dianggap terindikasi melanggar hukum. Hal ini misalnya terbukti dalam kasus Bom Mumbai India.

Jadi pada dasarnya apa  yang dituntut Pemerintah adalah sebuah kewajaran dan bahkan juga keharusan. Hal ini bukannya tidak disadari para pengguna Blackberry. Karena para pengguna Blackberry adalah kalangan menengah keatas yang tentunya sangat well inform dan well educated. Tetapi kenapa kemudian kebijakan pemerintah, yang bertujuan untuk membela publik, dianggap bersebrangan dengan publik?

Pemerintah dan Strategi Pesan Pemerintah

Bila kita lihat lebih dalam, penolakan publik terhadap ancaman pemblokiran Blackberry pada dasarnya bukanlah ketidaksepakatan pada kebijakan. Tetapi lebih kepada psikologi publik terhadap sebuah sosok institusi yang mengeluarkan ancaman itu sendiri.

Setidaknya ada beberapa hal yang membuat publik bereaksi negatif. Pertama jarak antara publik, pemerintah dan Blackberry yang membentang jauh sedangkan pada sisi lain terdapat jarak yang sangat dekat antara publik dengan Blackberry. Pemerintah bagi publik adalah entitas yang jauh diluar sana. Pemerintah itu institusi yang tidak dirasakan kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Publik merasa kesuksesan atau kegagalan yang mereka peroleh adalah hasil usaha sendiri, bukan bantuan pemerintah. Kontras dengan hubungan publik dan Blackberry. Produk RIM ini sangat dekat dan ada dalam dekapan. Blackberry selalu ada di kehidupan mereka dan membantu aktivitas keseharian nya. Berinteraksi dengan Blackberry berarti berinteraksi dengan suatu yang menyenangkan dan memudahkan

Kedua asas manfaat dalam kehidupan manusia. Hukum alam kalau sesuatu yang dianggap tidak bermanfaat akan ditinggalkan. Blackberry telah menunjukan kegunaannya bagi publik. RIM sudah membantu publik untuk bisa mengakses situs jejarang sosial lebih mudah, akses internet kapan pun dan dimanapun, meningkatkan citra diri dan yang paling penting membantu menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan pemerintah adalah institusi tidak berfungsi. Pemerintah rajin menagih pajak, tetapi gagal menggunakan uang pajak untuk kesejahteraan publik. Pemerintah adalah organisasi yang gagal menghadirkan rasa aman publik baik terhadap kekekerasan maupun ketersediaan pangan

Kesemuanya bermuara kepada hal yang ketiga kredibilitas. Pemerintah sudah tidak dianggap lagi sebagai sebuah institusi yang memiliki integritas moral menjalankan fungsi dan perannya.

Penjelasan Menkominfo tentang RIM yang tidak memberikan konstribusi apa-apa untuk kas negara bisa difahami bahkan dibenarkan. Hanya saja masalahnya bagi publik, karena ini menyangkut kredibilitas, apakah konstribusi yang dimaksud betul-betul buat negara atau untuk yang lain.

Kredibilitas komunikator ini yang menjadi variable penting terjadinya penolakan publik. Saat ini mungkin bisa dikatakan apapun yang dikatakan pemerintah adalah sesuatu yang mesti ditolak. Lebih luas lagi, apapun yang dikatakan oleh elite sesuatu yang keliru.

Hal lain yang mendasar dari penolakan publik juga bisa dilihat pada strategi penyampaian pesan. Menempatkan pornografi sebagai isu utama seolah menampar dan meremehkan publik. Pemerintah seolah ingin mengatakan kalau negara akan hancur bila masyarakat tidak dijaga dan menjaga moralnya. Padahal yang terjadi adalah krisis moral di kalangan elite itu sendiri. Krisis moral yang menyebabkan pornografi politik sehingga para politisi tidak lagi mempunyai prinsip, pornografi hukum yang menyebabkan seluruh penegak hukum berkoalisi untuk menyiasati dan melawan hukum dan pornografi ekonomi dimana para pengemban kebijakan ekonomi berkongsi untuk mengeksploitasi seluruh potensi ekonomi Indonesia untuk kepentingan sendiri.

Hal inilah yang ada di benak publik. Komunikator dan pesan yang disampaikan komunikator telah menimbulkan publik menolak kebijakan yang sebetulnya sangat dibutuhkan publik.
READ MORE - Blackberry Diancam, Blackberry Dibela

Berkumpul Tapi Tidak Bersatu


Ketika terjadi konflik dan perbedaan pendapat, berkumpul atau mengumpulkan semua fihak selalu menjadi solusi. Berkumpul atau mengumpulkan selalu diyakini sebagai cara mempertemukan semua fihak yang memiliki kepentingan berbeda, untuk bisa tetap berjalan bersama. Setidaknya hal ini juga ditunjukan oleh Presiden dan para elite politik.

Awal pemerintahan SBY-Boediono dimulai dengan mengumpulkan representasi kepentingan parpol dalam kabinet yang dikenal dengan kabinet pelangi. SBY sulit mengatakan kabinet kali ini berdasar kompetensi, karena representasi partai jauh lebih kuat dibanding profesionalisme. Fit and Propper Test, dianggap sebagai politik pencitraan semata. Peristiwa politik selanjutnya ditandai dengan terbentuknya Sekretariat Gabungan (Setgab), kumpulan partai koalisi penyokong pemerintahan Selanjutnya menyikapi kisruh mafia hukum dan pajak, dibentuklah Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Kumpulan para penegak hukum beranggotakan beberapa komponen penegak hukum meliputi pemerintah dan masyarakat.

Tetapi entah karena alpa, tidak tuntas ataupun sengaja karena semua hanya didesign sebagai politik pencitraan, tim gabungan alih-alih menyelesaikan masalah, yang ada justru menimbulkan masalah baru dan menimbulkan kepercayaan publik.

Pada dasarnya keberhasilan sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai macam kepentingan bisa diukur dari aspek produktivitas dan moralitas. Dalam aspek produktivitas bisa dilihat sampai sejauhmana targetan pekerjaan bisa dicapai. Sedangkan secara moral, kesuksesan sebuah kelompok bisa dilihat sampai sejauh mana publik bisa dipuaskan dari seluruh hasil kerja yang telah dilakukan.

Kabinet pelangi yang berjanji bekerja solid dan all out dihadang permasalahan mendasar dalam bekerja; koordinasi dan komunikasi. Meskipun telah dilaksanakan summit berskala besar-besaran juga rapat koordinasi nasional, hasil dari usaha penyamaan visi ini belum terlihat sampai sekarang. Penganiayaan TKI terus terjadi, penanganan bencana tidak ada perubahan signifikan, diplomasi luar negeri mendatangkan rasa malu dan kemiskinan pun hanya berubah definisi bukan kondisi

Kumpulan elite di Sekretariat Gabungan tidak jauh berbeda. Bertujuan menyelesaikan seluruh “sengketa politik”, Setgab justru menciptakan sengketa baru. Ide pembentukan poros partai tengah dalam Setgab bagaimanapun bukan saja lahir dari marginalisasi peran antar komponen partai pendukung, tetapi juga menunjukan bagaimana pengelolaan konflik kelompok dalam Setgab itu sendiri. Begitu juga Satgas pemberantasan mafia hukum. Anggota Satgas dari unsur kepolisian menyatakan keluar dari Satgas karena tersinggung dengan ucapan salah seorang anggota Satgas. Unsur kejaksaan digugat karena menunjukan adanya keseteraan perwakilan kelompok. Lebih jauh lagi, Satgas sekarang menjadi poros baru pusat konfllik kekuasaan

Perkumpulan Minus Loyalitas

Sia-sianya usaha mengatasi masalah dengan pendekatan “perkumpulan’ pada dasarnya terletak dari logika dasar “perkumpulan” yang dilupakan. Presiden dan para elite bersusah payah mengumpulkan seluruh kepentingan tetapi dengan melupakan hal mendasar adanya sebuah perkumpulan itu sendiri; persatuan. Problem mendasar inilah yang terlihat jelas oleh publik; adanya perkumpulan tanpa persatuan.

Sebuah perkumpulan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kerumunan. Ada lebih dari tiga orang yang duduk bersama dengan tujuan masing-masing dan tidak mendialogkan tujuan bersama. Semua berjalan sesuai dengan tujuan masing-masing bukan tujuan bersama. Ketika tujuan bersama diungkap dan disepakati, itu pun hanya dalam tataran yang sangat semu sekedar untuk penghormatan ataupun menjaga tujuan sendiri bisa tetap terfasilitasi.

Hal mendasar penyebab terjadinya pola perkumpulan seperti diatas adalah absennya kohesivitas diantara anggota kelompok tersebut. Dalam studi komunikasi, kohesivitas adalah istilah yang merujuk kepada loyalitas seseorang kepada kelompok yang diikutinya. Mengutip Ernest dan Nancy Bormann dalam tulisan berjudul Effective Small Group Communication Rubben menyimpulkan bahwa intisari dari konsep kohesivitas adalah seperti terefleksikan dalam moto Alexander Duma’s Three Musketters “All for one and one for all” (Rubben, 1998:292)

Ketidakjelasan loyalitas dalam konteks perpolitikan di Indonesia bisa jadi berpangkal pada sistem politik yang berjalan. Sistem presidensiil dengan pola multi partai menyebabkan para pembantu presiden pun terpaksa mengenyahkan monoloyalitas, menampilkan multi loyalitas. Loyalitas kepada presiden di satu sisi dan loyalitas kepada partai disisi lain. Himbauan dan pengingatan bahwasannya mereka pada saat sekarang sudah menjadi pembantu presiden menjadi sangat hambar karena yang menentukan kelayakan seseorang menjadi pembantu presiden adalah partai itu sendiri, bukan presiden.

Dalam kondisi seperti ini tidak adalagi istilah “All for one, one for All” yang ada dan menjadi pegangan masing adalah “All for me and me for All”. Di satu sisi menegaskan watak eksploitatif dari setiap orang karena adanya tujuan sendiri yang tidak terkoordinasikan dengan tujuan kelompok, di sisi lain terlihat adanya watak narisisitas untuk melanggengkan kekuasaan.

Pembenahan sistem tentunya akan memakan waktu yang sangat panjang. Dibutuhkan kajian, konsensus, kesepakatan, keputusan sampai implementasi dan evaluasi untuk menetapkan sebuah sistem baru yang menjadi aturan main bersama. Sementara kita menunggu waktu, permasalahan menunggu kita.

Dalam kondisi chaotic seperti ini sebetulnya bisa diselesaikan dengan bersandar pada leadership. Presiden sebagai pucuk pimpinan nasional bisa membuat terobosan dalam menciptakan monoloyalitas berupa ketegasan dan dan kejelasan dalam memimpin. Pemakaian beberapa hak perogratif presiden seperti penentuan komposisi kabinet, pengambilan keputusan dalam setiap urusan vital pemerintahan mestilah dilakukan dengan penuh kekuatan tanpa ragu.

Meskipun pada titik ini yang menjadi problem kepemimpinan nasional, keragu-raguan dalam memimpin dan mengambil keputusan, tetapi pada dasarnya pemerintah yang berkuasa bisa melewati hal itu. setidaknya pemerintahan terpilih mempunyai modal yang sangat kuat untuk melakukan itu; legitimasi publik yang tercermin dari pilpres presiden wakil presiden  yang berlangsung satu putaran serta dukungan partai koalisi yang sangat dominan di parlemen.

Tentunya kita sangat berharap dan mesti yakin bila kumpulan minus mono loyalitas dan minus persatuan yang sedang memimpin kita ini bisa diatasi oleh kepemimpinan nasional. Karena bila kondisi ini tidak tercapai, maka Indonesia hanya akan terus menerus diisi dengan kebisingan dengan kegaduhan yang melelahkan dan menjemukan bukan wacana publik yang mencerdaskan dan mencerahkan.


READ MORE - Berkumpul Tapi Tidak Bersatu

Beragama Yang Menyehatkan


Banyak ilmuwan barat memiliki ungkapan pejoratif mengenai agama. Karl Marx menganggap agama tidak jauh seperti candu yang melenakan dan merusak, Sigmund Freud perintis Psychoanalisa menganggap agama sebagai obsessional neurosesis, bahkan Nietszhe “membunuh” Tuhan karena dianggap sebagai pangkal kerusakan masyarakat.

Pandangan-pandangan mereka tentunya keliru. Mereka hanya menganalisa fenomena beragama di sebagian kalangan. Mereka alpa untuk menganalisa lebih lanjut hakekat beragama yang sesungguhnya baik melalui analisa komprehensif terhadap teks-teks kitab suci maupun kehidupan orang shaleh yang telah mempraktekannya. Marx tutup mata melihat agama sebagai sumber perlawanan, Freud tidak tahu bila agama sangat menunjang kesehatan jiwa dan Nietszhe melupakan bila pemahaman tentang Tuhan lah yang menjadi sumber survival kebanyakan orang.  

Tetapi sayangnya, para penganut agama membabi buta menanggapi komentar tersebut. Seolah apa yang mereka ungkapkan total salah dan tidak terkandung didalamnya isyarat bagi kita sebagai orang beragama untuk melakukan refleksi. Karena sebetulnya dalam kesalahan total analisa yang diungkap, ada hal-hal yang membuat kita mesti mawas diri dan intropeksi tentang bagaimana sebetulnya kita harus beragama.

Bila kita melakukan pembacaan terbalik terhadap ungkapan para ilmuwan tersebut, maka kita akan menemukan koreksi-koreksi yang sangat baik bagi orang beragama. Terlepas apakah mereka bermaksud untuk mengkoreksi atau mengingatkan kita, tetapi hal ini sangatlah penting. Marx mungkin mengatakan agama candu, tetapi hal terkandung didalamnya adalah; hati-hati kalau kita tidak beragama dengan benar, maka akan menjadi candu bagi kehidupan kita bukan sarana kebahagian. Begitu juga dengan Nietszhe, yang seolah mengatakan; karena Tuhan difahami dengan tidak benar maka Tuhan saya bunuh.

Dalam kenyataannya kemudian kita menemukan banyak yang beragama tetapi makna beragama tersebut tidak termanifestasikan dalam kehidupan. Mengaku beragama tetapi sangat senang menyakiti orang lain, padahal agama mengajarkan akhlakul karimah kepada sesama. Orang beragama tetapi saling menggunjing padahal agama mengajarkan silaturahim

Beragama Yang Menyehatkan

Bagi beberapa kalangan beragama hanyalah alat. Mereka memperlakukan agama untuk kebutuhan sehari-hari memenuhi kebutuhan mereka akan status maupun identitas. Agama adalah something to use not to live, agama hanya menjadi sesuatu untuk dipakai seperti pakaian bukan petunjuk hidup. Orang seperti ini pergi haji untuk mendapat gelar haji, berinfak dan menolong orang hanya untuk mendapatkan pujian

Sebaliknya adalah orang yang menempatkan agama sebagai hal yang menunjang kesehatan jiwa dan mengatur kehidupan manusia. Agama adalah hal sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang beragama seperti ini akan menonjolkan makna substansial agama seperti akhlakul karimah, silaturahim, keshalehan sosial ketimbang bersusah payah meraih gelar dalam agama tetapi melupakan substansinya. Mereka akan menghindari segala bentuk manipulasi dan kecurangan karena keduanya sesuatu yang dilarang agamanya.

Seperti air, pengguna agama sebagai pakaian laksana air menggenang. Air menggenang berkumpul di suatu tempat dan memperlihatkan bahwasannya dia adalah air, tetapi hanya mendatangkan bau dan menjadikan sumber penyakit. Hanya mendatangkan bala ketimbang manfaat. Sebaliknya orang yang menempatkan agama sebagai comprehensive commitmen, laksana air mengalir. Air tersebut jernih, menebar kebaikan dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Seperti itulah sebetulnya beragama yang sehat. Mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan bagi diri sendiri dan menyebar pada lingkungannya. 
READ MORE - Beragama Yang Menyehatkan

Bahasa Di Rumah Kaca




Pada akhirnya kita faham kenapa penggagas Sumpah Pemuda mesti repot-repot menempatkan bahasa sebagai salah satu poin deklarasi. Meski hidup di tengah minimnya akses informasi, mereka secara cerdas dan jeli melihat bahasa sebagai instrumen penting hidup bernegara.

Perjalanan sejarah mengukuhkan gagasan Sumpah Pemuda. Demi memobilisir dan membangkitkan antusiasme masa yang baru saja terpuruk oleh kolonialisme, Soekarno memenuhi pidatonya dengan bahasa heroik dan bombastis. Sampai sekarang ungkapan Ganyang Malaysia, Jas Merah, Nawaksara, revolusi sudah menjadi memori nasional yang kerap dikumandangkan kembali.

Begitu juga dengan rezim Soeharto. Dalam sejarah rezim pasca kemerdekaan, mungkin Soeharto lah yang paling massif dan sistematis memperlakukan bahasa sebagai bagian mengelola kekuasaan. Para pejabat rajin mengumbar jargon; stabilitas nasional, pembangunan, keamanan, untuk membungkam daya kritis publik. Tidak cukup disitu, lembaga bahasa pun didirikan untuk mendistorsi hakikat bahasa. Bahasa diposisikan kering dan disasosiatif sehingga pusat bahasa lebih sibuk mengurus awalan dan akhiran ketimbang mendorong publik berekspresi dengan bahasa lisan maupun tulisan

Politik bahasa Soeharto pun berbuah manis bagi pengelolaan negara. Hanya dengan menyebut OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), Ekstrem Kanan/Kiri, maka daya kritis publik bisa diredam. Aktor-aktor nya bisa dipenjara tanpa pengadilan, diculik dan disiksa. Soeharto sukses menjadikan bahasa dalam ranah yang sangat netral pada satu sisi, dan memonopoli makna bahasa untuk kepentingan rezim pada sisi lain

Selanjutnya mungkin saat inilah kita menikmati kebebasan berbahasa. Bila sebelumnya bahasa dimonopoli negara, maka sekarang setiap orang bebas berbahasa sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bahasa adalah sesuatu yang sangat asosiatif dan multi interpretasi, tidak seperti rezim orde baru yang memposisikan bahasa menjadi disasosiatif dan mono interpretasi.

Bahasa hasil monopoli hanya melahirkan indoktrinasi, instruksi, dan komando. Maka tidak aneh bila kosakata yang muncul adalah penataran, temu wicara atau arahan. Sebaliknya, reformasi telah menempatkan bahasa sebagai instrumen asosiatif dan multi interpretasi. Sehingga banyak muncul desakan publik untuk melaksanakan berbagai forum klarifikasi atau kesepakatan bersama. Dialog publik, debat publik, pertemuan bersama, menjadi kosa kata baru di langit berbahasa negara kita.

Berbahasa di Rumah Kaca

Reformasi berhasil membuka katup penghalang sosial bagi setiap orang untuk berbahasa. Pasca reformasi tidak ada lagi larangan, sensor atau budaya telepon. Melarang adalah sesuatu yang dilarang. Keberhasilan gerakan reformasi ini kemudian bersinergi dengan kesuksesan revolusi komunikasi dan informasi yang berhasil mengangkat katup tekhnis penghalang distribusi informasi dan berimbas pada pemaknaan

Jika masa awalnya internet hanya menjadi saluran sharing dan distribusi informasi, selanjutnya internet telah memungkinkan lokalisasi dan kanalisasi informasi sedemikian rupa. Situs-situs jejaring sosial, blog berhasil mengagregasi bahasa yang muncul dan menjadi pemicu terjadinya gerakan sosial masyarakat.

Perkembangan ini tidak hanya membuat masyarakat lebih bebas berbahasa, tetapi juga menempatkan semua aktor bahasa seolah ada dalam rumah kaca. Tidak hanya bahasa dimonitor, prilaku pemakai bahasa pun menjadi penilaian publik. Dana milyaran rupiah untuk menutupi palesiran Gayus, hilang tidak berbekas hanya oleh beberapa paragraph surat pembaca. Alinda bisa mengungkap ketidakadilan Jaksa hanya dengan curhat

Oleh karena itu Agamawan boleh berbahasa kalau pemerintah pembohong. Pemerintah juga boleh berbahasa kalau agamawan itu gagak hitam. Seperti juga MUI bisa berbahasa kalau tragedi Cikeusik adalah “bentrokan” bukan ‘penyerangan” seperti diungkap banyak kalangan. Tetapi mereka jangan sampai absen mengingat kalau kebebasan mereka berbahasa diiring posisi mereka dalam rumah kaca. Publik dengan sangat telanjang bisa melihat dan menguji bahasa mereka.

Kita mesti belajar dari kejadian di Mesir dan Stadion Gelora Bung Karno. Pro Mubarak boleh muncul baik dengan kuda, unta bahkan pesawat sekalipun. Tetapi publik tetap bisa menilai kalau bahasa mereka adalah pesanan bukan otentik ekspresi diri. Begitu juga Nurdin Khalid dengan PSSI nya. Spanduk dukungan terhadap Nurdin bisa dibuat dari sutra termahal dan dipasang di setiap pojok Stadion. Tapi semuanya tidak bermakna kala koor se isi stadion menyebut Nurdin untuk turun, karena itulah bahasa yang otentik

Kehidupan di rumah kaca mensyaratkan bahasa tanpa manipulasi. Semua kebaikan dan keburukan terlihat jelas dan menjadi penilaian dasar publik akan siapa yang telah berbahasa jujur dan siapa yang penuh manipulatif. Kesadaran inilah yang absen dari pelaku bahasa kita. Pemerintah, Agamawan, Jamaah Ahmadiyah, MUI tidak akan pernah hancur karena terror senjata dan tsunami. Tapi mereka akan luluh lantak oleh bahasa mereka dan kaumnya.
READ MORE - Bahasa Di Rumah Kaca

Revolusi Sosial Bersama Twitter



Prita Mulyasari pasti tidak pernah menyangka bila curhatnya tentang layanan Rumah Sakit Omni di internet berbuntut panjang. Tidak hanya Omni yang kelimpungan menghadapi reaksi publik, pemerintah pun mesti susah payah menjelaskan pada publik kalau regulasi yang mereka buat pro publik. Ujung cerita ini sudah diketahui semua; pengumpulan koin prita yang sangat monumental.

Tidak lama berselang, gundah gulana publik yang diungkap lewat media kembali menjadi heboh nasional. Setidaknya ada tiga surat pembaca dengan dua tema berbeda. Surat pembaca pertama adalah keluhan tentang rombongan presiden SBY di tol Jagorawi yang merepotkan masyarakat. Surat pembaca kedua dan ketiga adalah kesaksian yang mengurai terpidana mafia pajak, Gayus, yang sedang palesir ke Bali dan Luar Negeri meskipun statusnya sebagai tahanan kepolisian.

Seperti juga koin Prita, ketiga surat pembaca ini menjadi isu publik. Istana perlu mengklarifikasi dan meminta maaf. Begitu juga surat pembaca tentang Gayus. Meskipun pelesiran bernilai milyaran rupiah itu diorganisir sedemikian rupa dengan melibatkan seluruh elemen penyelenggara negara bidang hukum, kasus itu tetap terbongkar. Tidak cukup mentri, Presiden pun perlu untuk mengeluarkan instruksi khusus berkenaan kasus Gayus

Saat ini setidaknya kita sedang menghadapi dua fenomena yang tidak jauh berbeda. Kejatuhan Hosni Mubarak di Mesir dan curhatnya Alinda Kariza tentang ketidakadilan yang melanda Ibunya. Drama kejatuhan Presiden Mesir Hosni Mubarak, selain menyisakan cerita tentang mobilisasi sekelompok massa bayaran pro mubarak, juga menyisakan cerita tentang sebuah rezim berkuasa mesti mematikan internet dan memutus situs-situs jejaring sosial yang jadi media masyarakat untuk berkomunikasi dan memobilisasi gerakan.

Di negeri sendiri, publik dihentakan oleh curahan hati Alinda Khariza di blog pribadinya yang di tweet di account tweeternya. Dalam waktu tidak kurang dari setengah hari, karena banyaknya orang yang simpati dan retweet, ribuan orang mengakses blog Alinda untuk membaca langsung curahan hatinya. Lebih dari 500 email menyatakan dukungan dan puluhan dering telepon masuk ke ponsel Alinda menyatakan simpati. Sekarang Alinda, keluarganya juga seluruh orang yang marah terhadap ketidakadilan yang dipraktekan penegak hukum, mendapat angin segar untuk melakukan perlawanan.

Siapapun pasti tidak pernah menyangka kalau situs jejaring sosial akan berpengaruh sedemikian besar. Internet umumnya dan situs jejaring sosial khususnya, banyak digunakan orang untuk mengekspresikan seluruh isi kepalanya. Tidak pernah tersirat menggunakan twitter dan facebook untuk melakukan aksi mobilisasi massa dan protes massal terhadap sebuah rezim yang dianggap tidak adil dan dzalim. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?

Fundamental Human Communication

Ada beberapa faktor yang menyebabkan internet, blog dan situs jejaring sosial dengan mudah mengumpulkan simpati publik dan memobilisasinya menjadi gerakan massal. Kelompok faktor pertama karena nature internet sebagai penemuan teknologi informasi dan komunikasi sedangkan yang kedua berasal dari improvisasi kemampuan teknologi komputer yang mampu mengcover beberapa kharakther komunikasi manusiawi, human communication, dalam sebuah praktek mediated communication yang dalam beberapa asumsi awal sering disebut low in socio emotional touch.

Nature teknologi informasi dan komunikasi adalah kemampuan multiplikasi dalam waktu singkat. Solidaritas gerakan facebooker untuk Bibit-Chandra bisa booming mencapai angka jutaan hanya dalam hitungan hari dan menjadi perhatian publik. Begitu juga tulisan Alinda di blog yang bisa diketahui dan diakses semua orang hanya dalam hitungan jam hanya dengan hanya kicauan di tweeter dan retweet para follower.

Pada sisi lain karena internet baru menjangkau kalangan tertentu, pengguna internet adalah kalangan menengah keatas yang melek baca, berpendidikan diatas rata-rata dan secara ekonomi sudah stabil. Karena berasal dari kalangan ini, maka mereka dengan sangat mudah bisa memobilisasi diri dan lingkungannya untuk mengungkapkan setiap keresahan. Kalangan menengah keatas adalah mereka yang sudah menuntaskan problem klasik dapur rumah tangga dan bergerak pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri.

Dua nature dari karakter pengguna internet ini yang kemudian bersinergi dengan perkembangan terbaru para pengguna internet yang mampu berekspresi di dunia maya sebagaimana mereka berekspresi di dunia nyata. Meskipun para pengguna internet tidak berhadapan, tetapi inovasi dunia teknologi telah membuat mereka seolah berhadapan meskipun berjauhan.

Dalam bukunya Communication and Human Behavior Rubben dan Stewart mengungkap beberapa hal fundamental dalam perilaku komunikasi manusiawi adalah subjektivitas, self reference, self reflexivity (1998: 76-79). Faktanya ternyata hal-hal penting ini selain bisa dicover dengan baik dalam komunikasi di dunia maya juga berubah

Subjektivitas adalah sesuatu yang inheren dalam setiap praktek komunikasi. Setiap orang mesti mempunyai latar belakang dan tingkat pengetahuan berbeda sehingga berbeda pula menafsirkan setiap pesan yang disampaikan setiap orang. Apa yang disebut murah hati bagi seseorang, berbeda maknanya bagi orang lain. Bagi seseorang murah hati adalah memberikan uang bila bertemu atau bagi orang lain murah hati berarti selalu memberikan senyum bila bertemu seberapapun kesulitan yang sedang dia hadapi.

Tetapi saat ini kita hidup di alam yang sudah diseragamkan sehingga orang memiliki interpretasi tunggal. Subjektivitas sudah hilang dan orang menjadi sangat objektif dan memiliki interpretasi tunggal untuk setiap realitas. Hal inilah yang terjadi di dunia maya. Cukup menampilkan photo Gayus maka bayangan orang adalah tentang pegawai negara yang korup dan merugikan, bukan tentang seorang kepala keluarga yang sangat melindungi dan menyayangi keluarganya. Bila disebut politisi maka kita berpikir tentang sekelompok orang yang suka bersilat lidah dan korup, bukan kelompok orang yang sedang berargumentasi dan membangun negara.

Adapun self references adalah ketika kita mengikutsertakan pengalaman pribadi dalam berinterpretasi. Internet sebagai sarana komunikasi juga selalu mengikutsertakan pengalaman pribadi yang melingkupinya. Ketika Alinda mencurahkan isi hatinya, ada yang menghubungi Alinda dan memberikan apresiasi karena dia mampu berbicara akan pengalaman yang sama dengan mereka. Mereka memberikan apresiasi terhadap tulisan Alinda bukan karena simpati semata, tetapi juga empati bahwa mereka telah mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami keluarga Alinda

Sedangkan self reflexivity adalah kebiasaan setiap orang untuk memproyeksikan bila pengalaman yang menimpa seseorang juga menimpa dirinya. Solidaritas masyarakat untuk Prita bukan hanya berdasarkan pengalaman mereka ketika berhadapan dengan layanan kesehatan masyarakat yang acap bermasalah, tetapi juga sebagian dikarenakan membayangkan bagaimana kalau dirinya dan keluarganya mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan Prita.

Hal yang juga penting adalah inovasi tekhnik penulisan dan teknologi penyajian gambar telah berhasil membuat setiap penonton televisi dan pembaca media seolah sedang menyaksikan kejadian secara langsung. Berapa banyak orang yang menyatakan ikut menitikan air mata mendengar nama Indonesia diserukan seisi Gelora Bung karno kala timnas sepakbola bertanding, meskipun mereka hanya menonton melalui Televisi. Atau ketika siaran Live TV yang menayangkan penyelamatan para penambang Chili membuat dunia ikut heroik, menitikan air mata dan mengalirkan bersimpati.

Warning Bagi Penyelenggaran Negara

Revolusi komunikasi dan informasi tidak hanya berhasil memperluas daya jangkau, tetapi juga kecepatan penyebaran informasi. Lebih jauh dari itu, berkomunikasi di dunia maya seperti berkomunikasi di dunia nyata. Perkembangan terkini revolusi komunikasi berhasil membangkitkan emosi dan mendorong publik memobilisasi diri.

Perkembangan ini sudah disadari dan dimanfaatkan sedemikian rupa oleh banyak kalangan seperti institusi bisnis dan pendidikan. Sehingga kedua institusi ini banyak melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih positif. Tetapi sayangnya perkembangan ini diremehkan oleh para penyelenggara negara. Mestinya mereka ingat bahwa perkembangan yang ada telah menempatkan mereka berada dalam rumah kaca dimana setiap orang bisa memonitor dan melihat secara jelas apa yang mereka perbuat.

Tetapi sepertinya kita sedang berhadapan dengan para penyelenggaran negara yang sudah bebal sehingga tidak bosan dan kapok melakukan penyimpangan dalam pengelolaan negara. Bila sudah seperti ini, maka revolusi sosial adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Seperti yang diungkap oleh William Paesley, pakar komunikasi dari Stanford University, Technological change has placed communication in the front lines of a social revolution
READ MORE - Revolusi Sosial Bersama Twitter